Seks Dunia Priyayi

jual obat perangsang wanita

Seks Dunia Priyayi

  1. Klangenan Dan Citra Birahi

Klangenan telah menjadi ideology priyayi. Klangenan, dari kata langen (senang), yang merujuk seks sebagai obyek kesenangan birahi. Maka, dikalangan priyayi bukan hal yang aneh kalau seks dipandang sebagai citra birahi yang menyenangkan. Kesenangan seakan-akan menjadi sasaran utama hubungan seks. Itulah sebabnya, dominasi kekuasaan sering menyelimuti dunia seks. Orang yang berkuasa, akan memiliki kesempatan lebih ba banyak untuk menikmati seks.

Kehidupan seksual para priyayi memang memiliki pengaruh tersendiri. Istilah priyayi, mulai dikenal luas secara akademik ketika Geertz (1989) menggubah buku Abangan Santri Priyayi. Sejak saat itu, mulai ada sorotan dunia kepriyayian Jawa. Dalam berbagai istilah, Kartodirdjo dkk (1993) juga mengetengahkan perkembangan dunia priyayi. Di dalamnya, dipaparkan bahwa priyayi memiliki gaya hidup seksual tersendiri, mulai dari pemilihan jodoh, poligami, dan berbagai ritual. Lebih lanjut Kayam juga menciptakan karya besar berjudul Para Priyayi (1992), yang merupakan refleksi ideologis, eskotis, dan etnografis kehidupan priyayi Jawa.

 

Ada lagi yang lebih menukik ke masalah seks dalam dunia priyayi dengan istilah ‘’pangeran’’ (Sukatno CR, 2002), yang hakikatnya kehidupan mereka memang penuh dengan tradisi dan ritualisasi hedonis. Seks telah menjadi wacana klangenan yang luar biasa. Kemudian dilanjutkan oleh Herusasoto dan Digdoatmadja (2004) dengan istilah ‘darah biru’. Priyayi mengenal upaya seksual untuk menurunkan ‘darah biru’ melalui tatacara seksual luhur. Berbagai atribut kepriyayian memang boleh-boleh saja dilekatkan. Yang jelas, hegemoni seks para priyayi memang sulit dilupakan.

Dalam Babat Tanah Jawi (jilid III, hal. 26-27) terdapat pendeskripsian tokoh Nawangsih sebagai citra priyayi Jawa. Dari sini tampak bahwa perempuan Jawa memang pernah dijadikan ‘obyek seksual’ oleh priyayi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan tembang dhandhang gula berikut.

 

Dyan warnanen Ni Rara Nawangsih, mandhep ing birahi pangganggya, pasang saulah lakune, sang saya lewih ayu, lan ibunya tatar kakalih, lir satu myang rimbagan, warnanya dinulu, apan lagya turun pisan, Nawangsih lan ibunya widadari, baneka manungsa.

 

Sangsaya umadhep ing birahi, dening kadya gambar wewangunan, sapa ta mandhing warnane, yen kinawiyeng tutur, lewih warna pan krang tawi, tan ana winahonan, guruning wong ayu, sariyaya sor parade,sapolahe liringnya tuhu weh brangti, tansah karya wigena.

 

Diceritakan tentang Rara Nawangsih, yang sedang tumbuh birahinya, tampak menawan seperti ibunya, bagaikan satu dengan rimbagan, terlebih lagi dia baru keturunan pertama, Nawangsih dan ibunya adalah bidadari, sedangkan ayahnya adalah manusia.

 

Tampak bersemi birahinya, seperti lukisan indah, sulit dibandingkan kecantikannya, jika dikatakan oleh sang kawi (pujangga), kecantikannya tidak ada celanya, dialah yang paling cantik, semua tingkah lakunya benar-benar membuat asmara, selalu membuat jatuh cinta.

 

Dari dua kutipan diatas, kutipan kedua lebih memberikan citraan yang bersifat erotis. Secara semiosis, ungkapan ‘’semakin bersemi birahinya’’ dan ‘’kecantikannya tidak tercela’’ akan memberikan indeks ‘’seorang gadis yang matang dan menawan’’ sebagai obyek seksual. Dewi Nawangsih adalah gadis yang matang dan menawan. Interpretasi itu pun dapat menjadi representamen baru secara sambung-menyambung yang akhirnya mengarah ke gambaran tindak seksual.

 

Untuk mendukung pencitraan yang mengarah ke erotisme, ungkapan tersebut dituangkan kedalam tembang dhandhang gula, yang bersifat ‘’manis’’. Hubungan antara ungkapan erotis denga jenis tembang yang digunakan bersifat indeksikal. Artinya, ungkapan erotis memberikan kesan ‘’manis’’ (dan indah). Sebaliknya, kesan ‘’manis’’ (dan indah) tersebut langsung mengacu ke ungkapan erotis.

 

Pencitraan yang serupa juga terdapat didalam Babad Demak  jilid I pada pupuh VI sinom yang mendeskripsikan keadaan Dewi Nawangwulan ketika mandi bertelanjang.

 

Baya pan wus karseng Sukma, bajul brangta lan jalmestri, wau tad yah kang asiram, dangu dennya kungkum warih, tan na tinaha galih, karenan neng jroning ranu, siram tanpa pasatan, sarira sedaya keksi pan gumawang maya-maya katingalan.

 

Sudah menjadi suratan takdir, buaya jatuh cinta kepada seorang wanita, yaitu seorang gadis yang sedang mandi, lama gadis itu mandi di air, tidak ada prasangka di hati, kelihatan sangat senang didalam air telaga, mandi tanpa busana, seluruh tubuhnya kelihatan, tampak bayang samar-samar bagi yang memandang.

Baca juga: Obat Perangsang wanita

 

Tiga kalimat terkhir dalam kutipan diatas yang dikaitkan dengan objek seorang gadis (Dewi Rasawulan) jelas dapat menimbulkan bayangan visual tentang birahi seks. Dengan demikian, pembaca tidak merasa kesulitan untuk menginterpretasikannya karena yang terdapat adalah intepretasi tunggal yang mengarah ke erotisme. Keindahan tubuh Dewi Rasawulan yang bertelanjang akan mengantarkan kita (pembaca) ke arah tindak seksual. Gambaran tersebut memberikan sinyal tegas bahwa perempuan Jawa memang obyek yang dapat menjadi kenikmatan. Para priyayi selalu menganggap, perempuan harus mengikuti apa saja yang dikehendaki laki-laki.

 

Untuk mendukung pencitraan erotis, deskripsi tokoh dalam ungkapan tersebut dituangkan ke dalam tembang sinom, yang dapat diterjemahkan ‘muda’ . dengan menggunakan jenis tembang tersebut ada hubungan indeksikal yang diharapkan oleh penulis babad antara ungkapan tentang cinta dengan ‘’pemuda’’. Artunya, cinta memberikan tanda atau acuan tentang pemuda. Sebaliknya, pemuda juga memberikan tanda atau acuan tentang percintaan. Hal itu disebabkan oleh percintaan selalu dikaitkan dengan pemuda, dan sebaliknya.

jual obat kuat pria

 

 

Recent search terms:

Related Post