Hegemoni Seks : Pemaksaan dan Kemesraan

jual obat perangsang wanita

jual obat perangsang wanita

Hegemoni amat kental dalam kehidupan seks para priyayi. Hegemoni akan membingkai keinginan seksual yang harus terlaksana. Biasanya, muncul kenikmatan sepihak, karena ada salah satu yang harus dipaksa. Memang, pemaksaan dalam seks sedikit ringan disbanding perkosaan. Pemaksaan masih menyimpan kemesraan seksual, sedangkan pemerkosaan sedikit bernada kekerasan. Pemaksaan hanyalah proses awal saja, jika kemudian yang dipaksa merasa mesra, akan terjadi hubungan intim pula. Sedangkan pemerkosaan tetap sulit menimbulkan rasa mesra, karena pihak lain akan menolak keras.

Orang Jawa tulen (asli) memamng sering malu dalam seks. Karenanya, perlu ada pemaksaan. Pemaksaan adalah bingkai hegemoni seks, yang satu mrngalahkan yang lain, tapi akhirnya sama-sama mau. Ketidakmauan dalam seks hanya sebuah drama eksotik, yang sengaja dibangun oleh pihak tertentu. Inilah konsep malu tapi mau. Konsep ini dalam kehidupan orang Jawa disebut klewa-klewa , artinya sedikit menolak padahal mau. Akibatnya, ada sedikit pemaksaan. Jadi, pemaksaan hanyalah pembukaan jalan licin saja.

Dalam Babad Tanah Jawi aktivitas yang dapat menimbulkan kesan erotis terdapat pada adegan atau episode romantik antara Dewi Nawangsih dan Lembu Peteng. Dalam episode itu (jilid III, hal 26-27) dilukiskan ketika Nawangsih sedang mendapatkan tugas dari Ki Gede Tarub agar mengirim makanan kepada Lembu Peteng di tegal (huma). Pada saat itu, layaknya pertemuan lawan jenis yang tidak dilihat oleh orang lain, terjadi adegan erotic. Adegan itu terjadi ketika tangan Nawangsih ditarik paksa oleh Lembu Peteng dituangkan dalam tembang dhandhanggula berikut.

 

Ngong raseng tyas panyekele iki, si kakeng owah kalawan saban, dene teka kadingaren, anyekel astaningsun, teka sora den culken tuli, tingale nora sedya, tan anduga ingsun, kadya kang uwong darbe karsa, pan tan ana wong duwe sadulur estri, bulah si wong liyaa.

Panyekele teka agumati, dede panyekele wong kekadang, kaya ta ana karsane, sang dyah dahat arengu, jronya ring tyas asemu runtik, pan kataraning netya, alis dahat putung, nanging arum ing wacana, pagerina kakang pati cecekeli inggih wonten punapa.

 

Kurasakan dalam kalbu tangan Kakanda ini, tampak berbeda dengan biasanya, kenapa memegang tangan aadinda, seperti orang menaruh keinginan  saja, yang tidak mempunyai saudara wanita, yang perhatiannya melebihi orang lain.

Pegangannya tampak penuh kasih, bukan pegangan orang yang bersaudara, jelas ada sesuatu, Sang Dyah sangat kurang berkenan, dalam hati merasa tidak enak, terlihat dari sinar matanya, namun semua itu dipoles oleh kata-katanya yang manis, ‘’mengapa Kakanda memegang tangan Adinda?’’

Dalam kutipan diatas terdapat ungkapan yang secara indeksikal merujuk tindakan seksual, yaitu Lembu Peteng memegangi tangan Dewi Nawangsih. Serupa dengan analisis yang dilakukan oleh Utomo (1997:35-37) terhadap novel Serat Riyanta, ungkapan panyekele teka agumati, dede panyekele wong kekadang ‘pegangannya penuh kasih, bukan pegangan orang bersaudara’ berdampak erotis ketika pembaca yang mempunyai latar tentang peristiwa itu mengaitkannya dengan pelaku (sebagai objek) dalam babad tersebut, yaitu sepasang muda-mudi, sehingga memberikan indeks ‘’kemesraan’’.

Baca juga: Obat herbal perangsang wanita

Aktivitas yang dapat membangkitkan erotisme juga terdapat dalam Babat Demak (pupuh X tembang Asmarandana, bait ke 30-33), yaitu tentang motif pria yang mengintip gadis yang sedang mandi dan kemudian bermain asmara.

 

Seksana siram sang Dewi, lukar aneng madyeng tirta, tan wrin nginggil wonten tyange, sang Tapa waspadeng ngikswa, mring marma dyah kang siram, ayu katon ayonipun, sang Wiku tyasnya kagiwang.

Kumepyur raosing galih, branta trenyuh kang wardaya, tansah sabil jro driyane, ucapen wau kang sira, dangu angum ing tirta, wusnya mentas ngrilo ngranu, katonton sasolahira.

Dangu sang Dyah aningali, wayangane jalma priya, ingkang warna bagus anom, kagyat Retna Rasawulan, jroning tyas kawigang, lir kadya asmara lulut, lan kang katon jroning tirta.

Sang kalih sareng mangeksi, Rasawulan lan sang Tapa, kadya saresmi karoron, pinarengan dening Sukma, karya titah utama, kinarya wijining ratu, Rasawulan nulya wawrat.

Ketika sang Dewi sedang mandi, melepas pakaian (bertelanjang) didalam air, tidak melihat bahwa diatas ada orangnya, yaitu sang Pertapa yang sedang memperhatikan dengan seksama, terhadap kecantikan putrid yang sedang mandi, benar-benar sangat cantik, sang Pertapa semakin tergiur hatinya.

Berdebar rasanya hati, hatinya telah terpikat, didalamnya hatinya terjadi peperangan, lama Dewi Rasawulan mandi, setelah selesai mandi mengaca di air, terlihat semua tingkah lakunya.

Lama sang Putri melihatnya, bayangan seorang pria, yang berwajah tampan dan myda, kaget Retna Rasawulan, didalam hati terasa terguncang, seperti orang yang bermain asmara (bersetubuh), dan yang terlihat didalam air.

Begitu keduanya menyadari, Rasawulan dan sang Pertapa, seperti bersetubuh, yang direstui  oleh Sukma, menjadi keturunan yang utama, yang nantinya akan dijadikan sebagai benih raja, rasa wulan kemudian mengandung.

 

Dalam  kutipan diatas terdapat ungkapan yang secara indeksikal langsung mengacu ke erotisme dengan mengungkapkan hubungan badan antara Dewi Rasawulan dan sang Pertapa. Ungkapan itu dibuat tersamar, yaitu bersetubuh hanya melaui pandangan didalam bayangan air sehingga Dewi Rasawulan mengandung. Dengan demikian, hubungan seksual antara Dewi Rasawulan dan sang Pertapa digambarkan secara erotis, bukan secara pornografis. Keerotisan episode tersebut didukung pula oleh jenis tembang yang digunakan, yaitu tembang asmarandana. Dilihat dari penamaannya, tembang  tersebut bersifat atau berkaitan dengan cinta dan asmara. Oleh karena itu, untuk mendukung kisah tentang permainan asmara antara Dewi Rasawulan dan sang Pertapa digunakan tembang asmarandana.

 

Motif yang demikian (pria mengintip gadis yang sedang mandi dan kemudian terjadi persetubuhan) ternyata sangat disukai oleh penulis Babad Demak tersebut. Dalam episode lain, yaitu kisah percintaan antara seorang gadis dengan seekor buaya digambarkan dalam tembang sinom bait ke-6 dan ke-7 serta bait ke-13 – bait ke-15 (pupuh IV) sebagai berikut.

 

Baya pan wus karseng sukma, bajul brangta lan jalmestri, wau tad yah kang asiram, dangu dennya kungkum warih, tan na tinaha galih, karenan nengjroning ranu, siram tanpa pasatan, sariya sedaya keksi, pan gumawang maya-maya katingalan.

Bajul seta dangu ngekswa, mring mewantah kang dus warih, kagiwang ing tyas kasmaran, nedya ngrasuk lan sang dewi, sakedhap malih warni, sipat jalma anom bagus,….

Kalih duk campuh paningal, lir kilat barung lan tathit, tyas rempu tanpa jamuga, sang kakung tan draneng galih, tandya mreeki ririh, sang Retna alon sinambut, pinondhong akangihan, pan sarwi di punarasi, sang Dyah lajeng binekta manjing papreman.

Kakung dhatengaken karsa, kyat sura mangesthi lungit, Dyah sumarah datan lawan, sru kagyat kepaneng lungit, katemben sang lir suji, pinaresmen ing tilam rum, labet Dyah wus diwasa, brangta mring kakung kayektin, ing asmara oenuh limut tengah lena.

Dumugi nggen pulang raras, kakung putrid sihnya sami, tan winarna ing resminya, sang Dyah kadya nendra ngimpi, sasolahireng resmi, sampunnya wudhar pulang yun, wau ta sang kusuma, tumrun saking jinem wangi, pura sirna, katingal malih bengawan.

 

Sudah menjadi suratan takdir, buaya jatuh cinta kepada seorang wanita, yaitu seorang gadis yang sedang mandi, lama gadis itu mandi di air, tidak ada prasangka dihati, kelihatan sangat senang di dalam air telaga, mandi tanpa busana, seluruh tubuhnya kelihatan, tampak baying samar-samar bagi yang memandang.

Buaya putih lama memandangnya, terhadap seorang gadis yang sedang mandi di air, terlintas dihatinya perasaan asmara, berkeinginan untuk menggauli sang dewi, sebentar saja sudah berubah wujud, menjadi seorang pemuda yang tampan….

Ketika keduanya beradu pandang, seperti kilat yang bersahutan petir, hatinya remuk tanpa terkira, yang laki-laki tidak sabar hatinya, dengan perlahan-lahan mendekatinya, sang gadis dengan perlahan disambut dengan dan dipondong serta diciumi, sang gadis kemudian dibawa keatas tempat tidur.

Yang laki-laki mulai berinisiatif, dengan kuat berkeinginan untuk bersetubuh, sang gadis menyerah tidak melawan, keras dan terkejut ketika suara bersenggama, bersatu seperti disunduk (ditusuk), disetubuhi di tempat yang harum, sepertinya sang gadis sudah dewasa jatuh cinta kepada sang laki-laki, di dalam permainan asmara yang melenakan.

Sesampainya mereka merasa puas, laki-laki perempuan rasa cintanya sama, tidak dapat diungkapkan tentang persetubuhannya, setelah selesai sang gadis hendak pulang, kemudian turun dari pelukan laki-laki yang wangi, lantas hilang dan terlihat lagi bengawan.

jual obat herbal perangsang wanita

 

Masih dalam babad  yang sama (Babad Demak), juga terdapat motif yang demikian. Bahkan, episode dari motif itu sangat dikenal oleh masyarakat Jawa. Episode itu adalah ketika Jaka Tarub mengintip tujuh bidadari yang mandi di telaga, seperti terlihat pada pupuh XIV sinom bait ke-19 berikut:

Tindak mindhik lingan wreksa, prapteng prenah mepet lan wit, ing sasolah wus waskitha, mring wantahe kang dus warih, pasatan kraket wentis, ugi kawon wantah sang rum, dyan tyas tanpa jamuga, lir pejah sajroning urip, uning gebyar wadining dyan kang asiram.

Berjalan mengendap-endap terhalang oleh pohon, mencari tempat dekat dengan pohon, semua tingkah laku sudah diketahui, terhadap wujud yang sedang mandi,…seperti mati dalam hidup,…

Kutipan diatas, yang menunjukkan katika Jaka Tarub mengintip ketujuh bidadari yang sedang mandi, diungkapkan dengan tembang sinom yang bersuasana penuh daya pikat oleh para muda di dalam menjalin cinta. Penggunaan tembang tersebut memberikan indeks bahwa Jaka Tarub dan Nawangwulan adalah dua orang remaja atau sepasang pemuda. Kisah Jaka TArub yang mengintip gadis sedang mandi dilanjutkan dengan kutipan berikutnya yang menggambarkan bahwa Dewi Nawangwulan-salah satu bidadari yang mandi di telaga-telah menjadi isteri Jaka Tarub karena kain selendangnya disembunyikan oleh Jaka Tarub.

Kunjungi juga: Toko Herbal Pasutri

Recent search terms:

Related Post