Guru Seks Sejati: Janur Mlengkung

obat herbal perangsang wanitaGuru Seks Sejati : Janur Mlengkung

Janur Mlengkung adalah idiomatic seksual Jawa yang khas. Idiom ini merujuk pada peristiwa besar bagi umat manusia Jawa yang sulit dilupakan, yaitu jenjang pernikahan. Pada saat itu, mempelai akan melewati  janur mlengkung yang digunakan sebagai tarub. Janur mlengkung adalah rerenggan taman ria manten (baca: pengantin-ed). Ini merupakan gambaran batas kewajaran seksual manusia. Orang Jawa dinyatakan bebas melakukan pengalaman batin lewat seks, setelah janur mlengkung.

Hal semacam tak lain merupakan pendidikan seks yang amat sensitive. Perlu disadari, memang pendidikan seks Jawa belum jelas lembaganya. Penanggung jawabnya juga tak jelas. Apakah orangtua, petugas KUA ketika mengijabkan mempelai, guru bila ada, dan yang lain. Sering kali saling lempar tanggung jawab pendidikan seks di Jawa. Hal ini membuktikan bahwa seks tak harus diajarkan secara institusi. Seks hanya cukup dihayati dan diamalkan. Maka, janur mlengkung menjadi sebuah momen seksual yang dinanti-nantikan oleh setiap pasangan.

Pada saat saya meneliti kehidupan seks orang Jawa pedesaan bersama dua orang teman (Widayat dkk, Jawa pos, 25 Mei 2005) banyak ditemuklan kejanggalan pendidikan seks di Jawa. Sebagian besar orangtua berpendapat seyogianya yang memberikan pendidikan seks adalah guru. Hal ini disebabkan mereka berpendapat bahwa masalah seks adalah persoalan yang tabu. Persoalan seks sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung atau terbuka pada anak.  Lebih dari itu sebagian besar orangtua juga khawatir jika dalam memberikan pendidikan seks nanti keliru, justru akan berakibat fatal. Oleh karena tidak semua orangtua di pedesaan Jawa menguasai strategi pendidikan seks. Orangtua sebagian besar berpendapat dan ingin menyerahkan pendidikan seks bagi anak wanita kepada guru di sekolah.

Namun demikian, ada juga orangtua yang berpendapat bahwa orangtualah yang sepantasnya memberikan pendidikan seks pada anak wanita, terutrama kaum ibu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masih ada dua pendapat yang seyogyanya memberikan pendidikan seks pada anak Jawa. Pendidikan seks bagi orangtua dipedesaan tetap terasa penting, namun yang harus memberikan tidak harus orangtua anak itu sendiri. Orangtua tidak harus bertanggungjawab atas pendidikan seks anak-anaknya. Orang lain diluar keluarga pun sebenarnya fakultatif dalam memberikan pendidikan seks. Andaikata para guru memberikan pendidikan seks kepada anak-anak wanita disekolah, lenih cenderung sebagai tugas rutin saja.

Begitu pula dengan data yang diperoleh dari anak, ternyata sebagian besar menginginkan guru yang seyogyanya memberikan pendidikan seks pada mereka. Alasan mereka bahwa guru yang lebih baik memberikan pendidikan seks disbanding orangtua adalah factor keterbukaan saja. Guru dianggap lebih mampu terbuka pada anak. Guru juga dipandang lebih intelek dan menguasai strategi pendidikan seks. Tentu yang menjadi masalah, tak semua orang Jawa yang mothol (baca; putus-ed) sekolah, langsung menikah (dinikahkan). Kalau demikian, dari mana belajar seks- jika bukan berdasar pengalaman.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua sebenarnya sungkan atau merasa terpaksa menjawab pertanyaan anak tentang masalah seksual. Mereka sering menganjurkan anak untuk bertanya pada gurunya saja, bahkan ada pula orangtua yang ditanya diam saja tak menjawab. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seksual memang sudah saatnya diberikan disekolah, agar anak tahu tentang seks yang benar dari guru. Sebab jika hanya diharapkan orangtua yang memberikan, terutama masyarakat Jawa pedesaan hal itu sulit dilaksanakan.

Orangtua di Jawa cenderung menyampaikan seks setelah pengalaman langsung dari anak. Karena, posisi orangtua memang serba sulit, jika harus blaka suta (jujur) tentu ada rasa khawatir anak tersebut bertindak macam-macam. Sebaliknya, kalau ditutupi, juga ada kekhawatiran manakala anak Jawa justru ingin tahu dengan mengintip tindakan seks. Padahal peristiwa mengintip ini, salah-salah bisa berakibat criminal. Maka orangtua mengambil jalan tengah, jika anaknya sedang mengalami langsung dalam seks—misalnya haid pertama (bagi anak perempuan) dan mimpi basah (bagi laki-laki) mereka menjelaskannya. Penjelasan yang disampaikan pun berdasarkan tradisi seadanya. Penjelasan juga disampaikan bila mana perlu, maksudnya apabila anak bertanya karena mereka umumnya panic.

Jadi dominasi pengalaman memang banyak mewarnai pendidikan seks di Jawa. Sebagian orang Jawa selalu berpendapat, bahwa pengalaman nyata adalah ‘guru seks sejati’. Pengalaman justru akan menjadi pelajaran berharga bagi anak. Anak-anak dibiarkan melakukan try out sendiri melewati janur mlengkung (perkawinan). Hal ini bukan berarti orangtua lepas tangan atau masa bodoh dalam seks. Orangtua justru memegang teguh tradisi, dengan dihinggapi rasa sungkan dan malu. Rasa ini akan berlanjut terus sampai seorang anak menemukan jati dirinya dalam seks.

Baca juga: Obat Perangsang Wanita

Recent search terms:

Related Post